
Lokasi Rumah kebun ini terletak 1 km dari pemukiman warga. Namun demikian oleh Agus Subandi, rumah yang sepintas mirip Gubuk ini di lengkapi dengan alat masak, tempat menyimpan gabah hasil panen, alat-alat pertanian, mesin sedot air dan barang barang lainnya.
Rumah berbentuk semi permanen ini kalau siang dijadikan tempat istirahat setelah bekerja disawah/diladang. Jika malam hari, digunakan sebagai pos menjaga lahan dari serangan gakah liar. Agus Subandi pun kerap menginap di rumah kebun ini jika kemalaman atau pada saat saat tanaman membutuhkan penjagaan ekstra.
Pada pertengahan Bulan Ramadhan Lalu, Rumah ini terbakar habis hingga rata dengan tanah. Kerugian materi yang diderita Agus Subandi mencapai 10 juta rupiah.
Supardi sebagai pengelola lokasi menceritakan, sore itu ia menyalakan lampu teplok berbahan minyak tanah. Tiap sore ia seperti biasa ke lokasi menyalakan lampu ini. Tujuannya adalah untuk penerangan, sehingga lokasi tidak mudah di serang Gajah liar.

Supardi tak bisa berbuat apa apa. Apalagi tidak ada satupun warga yang mengetahui kejadian ini sehingga tak satupun barang yang dapat diselamatkan. Dari keterangan Supardi asal api kemungkinan berasal dari lampu teplok yang ia nyalakan sore harinya. Ia mengaku lampu ini ia letakkan di tanah. Agar aman. Namun apa yang terjadi sungguh diliar dugaannya.
Beruntung puluhan ekor kambing milik Agus Subandi yang kandangnya hanya berjarak 5 meter dari lokasi kebakaran tidak turut tersambar si jago merah. Sehingga kambing ini masih selamat
Ketika ditemui disela puing-puing bangunan, ia mengakui akan berusaha membangun rumah ini lagi semampunya.
Ini adalah niat dari dalam dirinya. Ditengah ketebatasanya ia bertekad untuk mulai mengumpulkan material semampunya.
Ini adalah niat dari dalam dirinya. Ditengah ketebatasanya ia bertekad untuk mulai mengumpulkan material semampunya.
Saat ini ia tengah mencari pasir di sungai yang letaknya beberapa puluh meter dari lokasi kebakaran.

Supardi mesti melewati tebing sungai yang terjal dengan meniti tangga tanah yang hanya muat satu telapak kaki.
Dengan pasir yang ia kumpulkan ini Ia berniat membuat batako. Itupun jika sudah mampu membeli semen.
Batako ini rencananya akan ia gunakan untuk membuat kembali bangunan rumah kebun yang terbakar tersebut.
Disela sela waktu yang ia miliki, Supardi juga tengah memanfaatkan lahan milik Agus Subandi dengan bertanam kangkug dan memelihara ikan. Ia berharap hasil bertanaman sayuran dan kolam ikan ini bisa untuk membeli semen dan mulai membuat batako. Menurut Supardi ia merasa bertanggung jawab atas kejadian ini, dan dengan sekuat tenaga akan mendirikan rumah kebun milik Agus Subandi ini. Ia sangat bersyukur karena kebaikan hati Agus Subandi dan keluarga, karena ia masih tetap diizinkan untuk mengelola lahan yang ada.
Ditempat terpisah, Agus Subandi menyatakan sangat menyadari dengan musibah yang dialaminya. Menurutnya semua itu murni musibah. Ia dan keluarga menerima kejadian ini dengan lapang dada.
Agus Supandi mengakui tidak akan menyalahkan Supardi apalagi meminta pertanggung jawaban. Selaku Imam Masjid Al-Huda Tanjung Kesuma, Ia percaya bahwa kebakaran ini adalah musibah yang harus ia hadapi.
Ia pun berharap agar Supardi tetap bisa mengelola lahan miliknya agar Supardi bisa punya penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Hanya itu sementara ini yang bisa Agus Subandi lakukan kepada Supardi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar