Selasa, 26 Juli 2016

Banggakah Anda Menjadi Warga Desa?


Saya lahir di desa, tumbuh besar di desa, pernah keluar desa sesaat untuk menimba pengalamn, menempuh pendidikan dan merasakan pekerjaan di kota. Pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke desa.

Sebuah keputusan yang harus diambil untuk memanjangkan cita-cita dan beragam tujuan yang bisa diraih di desa.

Sebuah keutusan yang mulanya menuai kritikan dari tetangga. Mereka menganggap pilihan hidup di kota itu sudah tepat, dan tak perlu kembali ke desa.

Itulah cambuk nyata. Ketika kebanyakan orang yang lahir besar dan tinggal di desa merasa bahwa di kota adalah tempat yang memiliki peluang lebih menjanjikan, bisa jadi orang tersebut melihat dan merasakan tinggal desa dengan beragam keterbatasan.  Minimnya Peluang, lapangan kerja dan peluang usaha membuat turunnya kepercayaan diri bahwa hidup didesa bisa menjamin kehidupannya di masa depan.

Anggapan itu harus saya lawan. Karena pilihan tinggal di desa bisa disebabkan hal-hal yang sederhana. Pada masa kanak-kanak dulu, sawah, sungai dan kebun adalah tempat bermain.  Mungkin seperti "surga"  untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman kecil, kerabat dan saudara. Apa yang ada di desa itulah 'surga' nya.

Tak ada pembanding dan tak bisa dibandingkan dengan sederet fasilitas dan atau tempat-tempat wisata modern yang ada diperkotaan.Kedua hal yang bisa bermakna sama (untuk mencari kesenangan), namun punya atmosfer berbeda. Kedunya bisa menimbulkan rasa duka atau bangga. (yale).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar